MENGOLAH HASIL PENILAIAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Makalah ini berjudul “Mengolah Hasil Penilaian”, dengan tujuan penulisan sebagai sumber bacaan yang dapat digunakan untuk memperdalam pemahaman dari materi ini. Selain itu, penulisan makalah ini tak terlepas pula dengan tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran SD, untuk program Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Namun, penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.
Surabaya, 3 Maret 2018
Penulis.
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pengolahan Hasil Data 3
B. Skala Penilaian 6
C. Pemberian Skor, Acuan Penilaian dan Standar Nilai........................................................7
D. Mengolah Hasil Penilaian...............................................................................................14
E. Contoh Pengolahan Hasil Belajar SD Kurikulum 2013..................................................21
BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan 11
B. Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 12
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penilaian (assesment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian hasil belajar pada dasarnya mempermasalahkan bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pembelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan atau kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Penilaian merupakan kegiatan pengumpulan informasi hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Berdasarkan informasi dan data yang telah diperoleh seorang guru dapat memberikan keputusan terhadap prestasi peserta didiknya.
Setelah data dan informasi peserta didik terkumpul, baik secara langsung maupun tidak langsung maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data (mengolah hasil penilaian). Mengolah data berarti memberikan nilai dan makna terhadap data yang sudah dikumpulkan sebagaimana dikatakan oleh Carl H. Witherington (1952) “an evaluation is a declaration that samething has or does not have value”.
Penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik. Hasil penilaian harus dinyatakan dan dirasakan sebagai penghargaan kepada peserta didik yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar bagi peserta didik yang masih harus berjuang memperoleh keberhasilan (Sudjatmiko dan Lili Nurlaili, 2003:18).
Agar data yang terkumpul memiliki makna, guru sebagai evaluator harus benar-benar menguasai bagaimana cara memberikan nilai yang baik dan benar-benar dilakukan secara adil sehingga tidak merugikan berbagai pihak. Guru sebagai evaluator bertanggung jawab terhadap keberhasilan proses belajar peserta didik. Tanggung jawab ini merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan oleh guru agar ia mau dan mampu melakukan perbaikan mutu pendidikan (Nasution, 2011:77). Sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa agar mutu pendidikan terjamin kegiatan pembelajaran. Tentang penilaian juga diatur di Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian merupakan proses pengumpulan informasi dalam rangka mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Tanggung jawab itu tentu harus dilakukan oleh guru ketika memberikan penilaian dan mengolah nilai berdasarkan data dan informasi terhadap peserta didik secara objektif sehingga tidak melakukan kesalahan.
1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini terinci sebagai berikut:
1. Apa saja bentuk pengolahan hasil data?
2. Apa yang dimaksud dengan skala penilaian?
3. Bagaiamana mengolah data dari hasil penilaian?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja bentuk pengolahan hasil data.
2. Untuk memahami tentang skala penilaian.
3. Untuk mengetahui cara mengolah data hasil penilaian.
2
BAB 2
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Pengolahan Hasil Data
a. Data Penilaian Unjuk Kerja
Data penilaian unjuk kerja adalah skor yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan terhadap keterampilan peserta didik dari suatu kompetensi. Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
a.) Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja dalam suatu kompetensi.
b.) Kelengkapan ketetapan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.
c.) Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
d.) Upayakan kemampuan yang dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.
e.) Kemampuan yang akan dinilai dan diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.
Nilai yang dicapai oleh peserta didik dalam suatu kegiatan unjuk kerja adalah skor penyampaian yang dibagi skor maksimum di kali 10 (untuk skala 0-10) atau di kali 100 (untuk skala 0-100) misalnya dalam suatu penilaian untuk kerja pidato ada aspek yang harus dinilai antara lain: berdiri yang tegak, menatap kepada hadirin, sistematis, dan sebagainya. Apabila seorang mendapat skor 6, skor maksimum 8, maka nilai yang diperoleh adalah =
x 10 = 0,75 x 10 = 7,5
Nilai 7,5 yang dicapai peserta didik mempunyai arti bahwa peserta didik telah mencapai 75% dari kompetensi ideal yang diharapkan untuk unjuk kerja tersebut jika ditetapkan batas ketuntasan 70% maka peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, dan dapat melanjutkan ke kompetensi berikutnya.
b. Data Penilaian Sikap
Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamanan / observasi guru mata pelajaran yang dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung atau laporan pribadi.
Komponen-komponen yang harus dicatat adalah kejadian-kejadian yang menonjol yang berkaitan dengan sikap, perilaku dan unjuk kerja peserta didik baik positif maupun yang negatif. Pada akhir semester guru mata pelajaran merumuskan sintesis sebagai deskripsi dari sikap, perilaku dan unjuk kerja peserta didik dalam semester tersebut, deskripsi tersebut menjadi bahan atau pernyataan untuk diisi dalam kolom catatan guru pada rapor peserta didik.
3
Catatan guru mata pelajaran menggambarkan sikap atau tingkat penguasaan peserta didik berkaitan dengan pelajaran yang ditempuhnya dalam bentuk kalimat naratif. Demikian juga catatan dalam kolom deskripsi perilaku, menggambarkan perilaku peserta didik yang perlu mendapat penghargaan / pujian atau peringatan.
c. Data Penilaian Tertulis
Data penilaian tertulis adalah skor yang diperoleh peserta didik dari hasil berbagai tes tertulis yang diikuti peserta didik, baik dalam bentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, uraian, jawaban dingkat.
Soal bentuk pilihan ganda di skor dengan angka 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah, untuk suatu penilaian pilihan ganda adalah x 10.
Sedangakan soal dalam bentuk uraian non objektif tidak dapat di skor secara objektif, karena jawaban yang dinilai dapat berupa opini atau pendapat peserta didik sendiri bukan berupa konsep kunci yang sudah pasti. Setiap kriteria jawaban diberikan rentang nilai tertentu, misalnya 0-5. Besar kecilnya skor yang diperoleh peserta didik untuk suatu kriteria ditentukan berdasarkan tingkat kesempurnaan jawaban dibandingkan dengan kriteria jawaban tersebut. Nilai akhir semester ditulis dengan rentang 0 sampai 10 dengan dua angka dibelakang koma, yang merupakan deskripsi tentang tingkat atau persentase penguasaan kompetensi dasar dalam semester tersebut.
Misalnya: nilai 6,50 dapat di interprestasikan peserta didik telah menguasai 65% unjuk kerja berkaitan dengan kompetensi dasar mata pelajarandalam semester tersebut.
d. Data Penilaian Proyek
Meliputi proses yang diperoleh dari tahap-tahap: perencanaan / persiapan, pengumpulan data, pengolahan data dan penyajian data / laporan. Disetiap tahap dapat digunakan skor yang terentang 1 sampai 4. Atau dari skor terendah (1) sampai skor tertinggi (4), jadi skor terendah untuk keseluruhan adalah 4, sedangkan skor tertinggi untuk keseluruhan adalah 16.
Tahap 1 perencanaan / persiapan memuat: topik, tujuan, alat dan bahan, langkah-langkah kerja, jadwal, waktu, perkiraan data yang akan diperoleh, tempat penelitian, daftar pertanyaan atau format pengamatan yang sesuai dengan tujuan.
Tahap 2 pengumpulan berupa data tercatat dengan rapi, jelas dan lengkap. Ketetapan dalam menggunakan alat dan bahan.
Tahap 3 pengolahan data berupa pengklasifikasian data, penafsiran data sesuai dengan tujuan penilitian.
4
Tahap 4 penyajian data berupa merumuskan topik, tujuan penelitian melukiskan alat dan bahan, menguraikan cara kerja, dan lain-lain.
Dan masing-masing tahap diberi skor 1-4.
e. Data Penilaian Proyek
Dengan cara holistik guru menilai hasil produk peserta didik berdasarkan kesan keseluruhan produk dengan menggunakan kriteria keindahan dan kegunaan produk tersebut pada skala skor 0-10 dan 0-100. Cara penilaian analitik guru menilai hasil produk berdasarkan tahap proses pengembangan yaitu, mulai dari tahap persiapan, tahap pembuatan dan tahap penilaian.
Tahap Deskripsi Skor
Persiapan Kemampuan merencanakan seperti:
· Menggali dan mengembangkan gagasan.
· Mendesain produk, menentukan alat dan bahan 1-10.
Pembuatan Produk Kemampuan menyeleksi dan menggunakan bahan
· Kemampuan menyeleksi dan menggunakan alat.
· Kemampuan menyeleksi dan menggunakan teknik 1-10.
Penilaian Produk
· Kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaan / fungsinya.
· Produk memenuhi kriteria keindahan. 1-10
f. Data Penilaian Portofolio
Komponen penilaian portofolio meliputi, catatan guru, hasil pekerjaan peserta didik dan profil perkembangan peserta didik. Berdasarkan ke tiga komponen ini guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk presentase (%) atau dengan menggunakan skala 0-10 atau 0-100. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0-10 dan 0-100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai dikali dengan 10 atau 100 dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing.
5
g. Data Penilaian Diri
Pada taraf awal hasil penilaian diri tidak dapat langsung dipercayai dan digunakan, karena dua alasan utama, yaitu peserta didik belum terbiasa maupun terlatih dan peserta didik banyak melakukan kesalahan dalam penilaian. Ada kemungkinan peserta didik sangat subjektif dalam penilaian karena terdorong untuk berkeinginan memperoleh nilai yang baik, oleh karena itu guru perlu mengambil sampel antara 10% s.d. 20% untuk di telaah, dikoreksi dan dilakukan penilaian ulang, apabila setelah dikoreksi ulang oleh guru menunjukkan bahwa peserta didik banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan koreksi, guru dapat mengembalikan seluruh hasil pekerjaan kepada peserta didik untuk dikoreksi kembali dua atau tiga kali. Guru melakukan langkah-langkah koreksi dan telaahan seperti ini maka peserta didik akan menjadi terlatih dalam melakukan penilaian diri secara baik, objektif dan jujur. Hasil penilaian diri yang dilakukan peserta didik juga dapat dipahami, diinterprestasikan, dan digunakan seperti hasil penilaian yang dilakukan oleh guru.
B. Skala Penilaian
Skala penilaian adalah salah satu bentuk pedoman observasi yang dipergunakan untuk mengumpulkan data individu dengan menggolongkan, menilai tingkah laku individu atau situasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Dalam skala penilaian aspek yang diobervasi dijabarkan dalam bentuk skala baik kuantitatif maupun kualitatif.
Untuk mengubah skor menjadi nilai digunakan tekhnik analisis dan skala penilaian, yaitu:
1) Skala Sebelas
Skala sebelas diambil dari kata ”Standard Eleven” yang disingkat Stanel yang dipergunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh siswa ke dalam 11 kelompok nilai, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Skala ini paling sering digunakan oleh para guru. Di samping sudah terbiasa menggunakannya, proses perhitungannya pun mudah dan nilai tersebut bisa secara langsung mencerminkan prestasi penguasaan siswa terhadap materi tes.
2) Skala Sepuluh (skala 1-10)
Dalam penggunaan skala 10, skor aktual siswa ditransfer ke dalam 10 kelompok nilai, yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Skala 10 ini dipakai di sekolah sesuai dengan anjuran pada kurikulum 1975, bahwa seorang siswa yang sudah belajar tidak mungkin pengetahuannya tidak bertambah, apalagi berkurang. Oleh karena itu, nilai 0 (nol) ditiadakan.
6
3) Skala Sembilan (skala 1-9)
Skala sembilan diambil dari kata ”Standard Nine” yang disingkat Stanin. Dalam skala sembilan skor aktual siswa ditransfer ke dalam 9 kelompok nilai, yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Dibuangnya nilai 0 (nol) adalah berdasarkan pertimbangan seorang siswa yang sudah belajar tidak mungkin pengetahuannya tidak bertambah. Sedangkan dibuangnya nilai 10 adalah berdasarkan anggapan bahwa siswa tidak mungkin dapat menyerap seluruh materi yang diberikan 2.
4) Skala Lima (skala huruf)
Skala lima disebut juga dengan skala huruf karena nilai akhir tidak dinyatakan dengan angka (bilangan), malainkan dengan huruf A, B, C, D, dan E. Beberapa pakar evaluasi pendidikan ada pula yang menggunakan huruf F (failure) arai huruf G (gagal) sebagai pengganti nilai E.
5) Skala Baku
Skala baku (standar) disebut juga skala z, dan nilainya disebut nilai baku atau nilai z. Dasarnya adalah kurva normal baku yang memiliki nilai rerata = 0 dan simpangan baku s = 1. z
6) Skala Seratus (1-100)
Nilai dengan menggunakan skala seratus disebut skor T yang bergerak pada interval 0 sampai dengan 100. Nilai dengan menggunakan skala 100 ini didasari oleh nilai z.
7) Skala Bebas.
Skala yang tidak tetap. ada kalanya skor tertinggi 20, lain kali 25, lain kali 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi dari skala yang tidak digunakan tidak selalu sama.
C. Pemberian Skor, Acuan Penilaian dan Standar Nilai
Pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban-jawaban soal tes menjadi angka-angka atau bisa disebut suatu tindakan kuantifikasi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu tes hasil belajar. Pemberian skor biasanya disebut dengan memberi angka.
Ada 3 macam alat bantu dalam pemberian skor, yaitu:
1. Pembantu menentukan jawaban yang benar disebut kunci jawaban.
2. Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah disebut kunci skoring,
3. Pembantu menentukan angka disebut pedoman penilaian
7
Memberi skor dalam beberapa bentuk tes:
a. Tes Bentuk True false
Dalam menentukaan skor untuk tes bentuk betul salah ada 2 cara, yaitu:
a.) Tanpa hukuman
Adalah apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.
b.) Dengan hukuman
Ada 2 rumus:
Skor = Benar – salah
Skor = Total – 2 salah
b. Tes bentuk multiple choice
Dalam menentukan skor untuk tes bentuk betul salah ada 2 cara, yaitu:
a.) Tanpa hukuman
Adalah apabila banyanya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.
b.) Dengan hukuman
Keterangan :
n = banyaknya pilihan jawaban.
c. Tes bentuk short answer test
Adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek.
d. Tes Bentuk matching
Adalah bentuk tes pilihan ganda dimana jawaban – jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaannya.
e. Tes bentuk essay
Menyusun sebuah tes uraian sebaiknya menentukan terlebih dahulu pokok- pokok jawaban yang kita kehendaki dengan demikian maka akan mempermudah kita dalam pekerjaan mengoreksi tes itu.
8
f. Tugas
Tolok ukurnya adalah :
· Ketepatan waktu penyerahan tugas
· Bentuk fisik pengerjakan tugas
· Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran
· Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi
· Mutu hasil tugas
Langkah-langkah Menskor secara umum:
a. Menyusun suatu jawaban model sebagai kunci jawaban yang memenuhi syarat sebagai jawaban yang baik (benar, relevan, lengkap, berstruktur, dan Jelas).
b. Setiap item bisa berbeda bobot. Perbedaan bobot bisa berdasar pada jenis bahan (bahan perangsang, bahan inti, bahan penting, dan kurang penting), teksonomi (pengetahuan, pemahaman, evaluasi, dll).
c. Membaca beberapa jawaban dari peserta didik yang kurang pandai dan yang pandai. Hal ini dapat dipakai untuk memperoleh gambaran umum tentang kualitas dari jawaban dari para peserta didik atau mengecek apakah kunci jawaban cukup realistik.
d. Sebaiknya masing-masing nomor dari jawaban tes diperiksa sekaligus sebelum melakukan skoring nomor yang lain.
e. Agar tidak terpengaruh oleh kesan mutu jawaban yang mendahului sebaiknya sesudah selesai diperikasa jawaban-jawaban satu nomor, lembar jawab perlu ditukar urutannya.
f. Tidak usah memperhatikan nama dan nomor peserta, untuk mengurangi subyektivitas.
g. Membiasakan hanya memeriksa isi pikiran yang dikemukakan dalam jawaban, sehingga tidak perlu menilai bentuk tulisan dan lain-lain.
h. Mengembalikan lembar jawab lengkap dengan catatan-catatan seperlunya.
Perbedaan antara skor dengan nilai.
Skor adalah nilai mentah yang diperoleh siswa berdasarkan kriteria penilaian hasil evaluasi pembelajaran.
Nilai adalah angka ( huruf ) yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lain serta disesuaikan pengaturannya dengan standart tertentu.
9
Contoh:
Skor maksimal diharapkan 40. A memperoleh skor 24. Berarti bahwa sebenarnya A hanya menguasai tujuan instruksional khusus tersebut hanya 60% dari tujuan instruksional khusus. A mendapat nilai 60. Jadi, 24 adalah skor dan 60 adalah nilai.
Acuan Penilaian.
Setelah mendapatkan skor-skor dari pekerjaan peserta didik, maka skor-skor tersebut menjadi dasar penilaian hasil belajar. Penilaian ialah kegiatan memperbandingkan hasil pengukuran (skor) sifat suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu ukuran kualitas. Semakin maju taraf perkembangan peserta didik seyogyanya semakin pendek rentang nilai. Ada dua acuan penilaian yaitu Penilaian Acuan Normatif (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP).
1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah suatu penilaian yang meperbandingkan prestasi belajar peserta didik dengan suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya.Acuan penilaian ini banyak dipakai dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi.
Acuan ini biasa dikenal dengan Standart Mutlak.
Contoh:
Skor maksimal diharapkan 40. A memperoleh skor 24. Berarti bahwa sebenarnya A hanya menguasai tujuan instruksional khusus tersebut hanya 60% dari tujuan instruksional khusus. A mendapat nilai 60.
Pada hal ini, A dibandingkan dengan skor maximal.
* Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I
Merupakan acuan penilaian dengan nilai kelulusan atau ketuntasan 65 %.
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai Huruf
90% - 100%
A
80% - 89%
B
65% - 70%
10
C
55% - 64 %
D
Di bawah 55 %
E
* Penilaian acuan patokan Tipe II
Merupakan acuan penilaian dengan nilai kelulusan atau ketuntasan 56 %.
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai Huruf
81% - 100%
A
66% - 80%
B
56% - 65%
C
46% - 55 %
D
Di bawah 46 %
E
2. Penilaian Acuan Normatif (PAN)
PAN adalah suatu penilaian yang memperbandingkan hasil belajar peserta didik terhadap hasil belajar peserta didik lain dalam kelompoknya. Acuan ini sekarang dianggap kurang sesuai dengan pendekatan pembelajaran saat ini yaitu membandingkan hasil antar peserta didik.
Acuan ini biasa disebut dengan Standart Relatif.
11
Contoh:
Jika A masuk dalam kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang cerdas, maka A termasuk “hebat”. Tetapi jika kemudian A terjun ke kelompok 2 yang terdiri dari siswa yang sedang kecerdasannya, maka A akan menduduki kualitas “sedang”.
Dalam Norm Reference ada 3 kelompok, yaitu:
1. Kelompok Baik.
2. Kelompok Sedang.
3. Kelompok Kurang.
Tipe ini kurang banyak dipakai dalam praktik penilaian.
Dasar penilaiannya adalah mean (M) dan deviasi standar (S).
3. Jika Standart Relatif dengan Standart Mutlak dihubungkan dalam pengubahan skor dengan nilai adalah:
Dengan Standart Mutlak:
* Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
* Nilai diperoleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (mentah)
Contoh:
Pada ulangan 1, Andi mendapatkan skor 60( mencapai tujuan 60% dari tujuan)
Pada ulangan 2, Andi mendapatkan skor 80( mencapai tujuan 80% dari tujuan)
Pada ulangan 3, Andi mendapatkan skor 50(mencapai tujuan 50% dari tujuan)
Jadi nilai Andi adalah :
Dibulatkan menjadi 63
Dengan Standart Relatif:
* Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
* Nilai diperoleh dengan 2 cara, yaitu:
i. Mengubah skor dari tiap-tiap ulangan lalu diambil rata-rata.
ii. Menentukan skor tiap-tiap ulangan, baru diubah ke nilai.
12
Standar Nilai
Jenis-jenis standar nilai:
1. Standar Nines atau Stanines
Standar nines adalah merentangkan skor-skor siswa menjadi 9
Stanines
|
Interpretasi
| ||
9
|
(4%)
|
Tinggi
|
(4%)
|
8
|
(7%)
|
Di atas rata-rata
|
(19%)
|
7
|
(!2%)
| ||
6
|
(17%)
|
Rata-rata
|
(54%)
|
5
|
(20%)
| ||
4
|
(17%)
| ||
3
|
(12%)
|
Di bawah rata-rata
|
(19%)
|
2
|
(7%)
| ||
1
|
(4%)
|
Rendah
|
(4%)
|
2. Standar Enam
Standar enam yaitu merentangkan skor-skor siswa menjadi 6. Dalam hal ini, hanyaberkisar antara 4 sampai 9, yaitu nilai-nilai 4,5,6,7,8 dan 9.
Presentase penyebaran nilai dengan standar enam adalah seperti berikut:
Standar Enam
|
Interpelasi
| |
9
|
(5%)
|
Baik Sekali
|
8
|
(10%)
|
Baik
|
7
|
(20%)
|
Lebih dari Cukup
|
6
|
(40%)
|
Cukup
|
5
|
(20%)
|
Kurang
|
4
|
(5%)
|
Kurang Sekali
|
3. Standar Eleven
13
Dengan stanel ini, sistem penilaian membagi skala menjadi 11 golongan, yaitu angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, yang satu sama lain berjarak sama. Tiap-tiap angka menempati interval sebesar 0,55 SD, bertitik tolak dari Mean = 5 yang menempati jarak antara -0,275 SD sampai +0,75 SD. Seluruh jarak yang digunakan adalah dari -3,025 SD sampai +3,025 SD. Bilangan-bilangan persentil untuk menentukan titik dalam Stanel ini adalah: P1, P3, P8, P21, P39, P61, P79, P92, P97, P99.
Dasar pikiran untuk Stanel ini adalah bahwa jarak praktis dalam kurva normal adalah 6 SD yang terbagi atas 11 skala.
11 skala = 6 SD
1 skala = SD = 0,55 SD
4. Standar Sepuluh
Pada standar sepuluh nilai direntangkan dari 1-10. Untuk mengubah skor menjadi nilai, diperlukan dahulu:
· Mean (rata-rata skor)
· Deviasi Standar (Simpangan Baku)
· Tabel Konversi angka ke dalam nilai berskala 1-10.
Tahap-tahap yang dilalui dalam mengubah skor mentah menjadi nilai berskala 1-10 adalah sebagai berikut:
· Menyusun distribusi frekuensi dari angka-angka atau skor-skor mentah.
· Menghitung rata-rata skor (Mean).
· Menghitung Deviasi Standar atau Standar Deviasi.
· Menstransformasi (mengubah) angka-angka mentah ke dalam nilai berskala 1-10.
5. Standar Lima
Kembali kepada Gronlund selain ia mengemukakan penyebaran nilai dengan angka, juga mengemukakan penyebaran nilai dengan huruf yang digambarkan dengan kurva normal.
14
Catatan:
· Gronlund tidak menggunakan huruf E tetapi huruf F singkatan dari Fail (gagal).
· Selanjutnya dikatakan oleh Grondlund: Rentangan presentase ini hanya berlaku bagi populasi yang sangat heterogen. Apabila populasi telah terseleksi akibat kenaikan kelas atau pindah ke tingkat sekolah yang lebih tinggi, maka golongan F yang ada di ekor kiri akan berkurang sehingga distribusi tersebut menjadi:
A-----------------10 sampai 20 persen.
B-----------------20 sampai 30 persen.
C-----------------40 sampai 50 persen.
D-----------------10 sampai 20 persen.
E-------------------0 sampai 10 persen.
D. Mengolah Hasil Penilaian
1. Teknik Pengolahan Hasil Tes
Menurut Zainal Arifin (2006) dalam mengolah data hasil tes, ada 4 (empat) langkah pokok yang harus ditempuh, yaitu:
a. Menskor, yaitu memberi skor terhadap hasil tes yang dapat diperoleh oleh peserta didik. Untuk memperoleh skor mentah diperlukan tiga jenis alat bantu yaitu kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman konversi.
b. Mengubah skor mentah menjadi skor standard sesuai dengan norma tertentu.
c. Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai baik berupa huruf maupun angka.
d. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.
Setelah melaksanakan kegiatan tes dan lembar pekerjaan peserta didik telah diperiksa kebenaran, kesalahan dan kelengkapannya langkah selanjutnya adalah menghitung skor mentah untuk setiap peserta didik berdasarkan ruus-rumus tertentu dan bobot setiap soal.Kegiatan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena menjadi dasar bagi kegiatan pengolahan hasil tes sampai menjadi nilai prestasi.Sebelum melakukan tes, guru harus sudah menyusun pedoman pemberian skor.Pedoman penskoran sangat penting disiapkan terutama bentuk soal esai (Zainal Arifin, 2009: 223). Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir subyektivitas penilai.
15
Begitu juga ketika melakukan tes domain afektif dan psikomotor peserta didik , karena harus ditentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Rumus penskoran yang digunakan bergantung pada bentuk soalnya, sedangkan bobot (weight) bergantung pada tingkat kesulitan (difficulty indek), sebagai misal sukar, sedang dan mudah. Untuk lebih jelasnya kami paparkan cara-cara pengolahan hasil evaluasi sebagai berikut:
a. Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Uraian
Dalam bentuk uraian skor mentah dicari dengan menggunakan system bobot, system bobot itu sendiri dibagi dua cara, yaitu:
1) Bobot dinyatakan dalam system skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya. Sebagai missal untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk skor yang sedang skor maksimumnya 7 dan untuk skor yang tergolong sulit diberi skor maksimum 10. Dengan demikian ketika menggunakan cara ini peserta didik tidak mungkin mendapatkan skor 10.
Contoh 1.
Seorang peserta didik diberi tiga soal dalam bentuk uraian.Setiap soal diberi skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas peserta didik.
Tabel 1
Penghitungan Skor dengan Sistem Bobot Pertama
No. Soal
|
Tingkat Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor (x)
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
6
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
7
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
Jumlah
|
23
| ||
Rumus Skor: ∑x
∑s
Keterangan: ∑x = jumlah skor ∑s = jumlah soal
Jadi Skor peserta didik A =
= 7,67
16
2) Bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebagai contoh; soal mudah diberi bobot 3, soal sedang diberi bobot 4 dan soal yang sulit diberi bobot 5. Dengan menggunakan cara ini memungkinkan peserta didik mendapatkan skor 10.
Contoh 2.
Seorang peserta didik dites dengan tiga soal dalam bentuk uraian. Asing-masing soal diberi bobot sesuai dengan tingkat kesulitannya, yaitu bobot 5 untuk soal yang sukar;4 untuk soal sedang, dan 3 untuk soal yang mudah. Tiap-tiap soal diberikan skor (X) dengan rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban yang betul.Kemudian skor (X) yang dicapai oleh setiap peserta didik dikallikan dengan bobot setiap soal.
Tabel 2
Penghitungan Skor dengan Sistem Bobot Kedua
No. Soal
|
Tingkat Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor (x)
|
Bobot (B)
|
XB
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
10
|
3
|
30
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
10
|
4
|
40
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
5
|
50
|
Jumlah
|
30
|
12
|
120
| ||
Rumus Skor: ∑XB
∑B
Keterangan:
TK = tingkat kesukaran
X = kor tiap soal
B = bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal
∑XB= jumlah hasil perkalian X dengan B
Dengan demikian skor peserta didik adalah;
= 10
b. Cara Memberikan Skor Mentah untuk Tes Objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif, yaitu:
1) Tanpa menggunakan rumus tebakan (Non Guessing Formula)
17
Cara ini digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya.Caranya adalah dengan menghitung jumlah jawaban yang betul saja, setiap jawaban betul diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul.
2) Menggunakan Rumus Tebakan (Guessing Formula)
Rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah diujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya. Adapun rumus-rumus tebakan tersebut adalah;
a) Untuk item bentuk benar-salah (true-false)
Rumus: S = ∑B - ∑S
Keterangan: S = skor yang dicari
∑B = jumlah jawaban yang benar
∑S = jumlah jawaban yang salah
b) Untuk item bentuk pilihan-ganda (multiple choice)
Rumus: S = ∑B - ∑S
n – 1
Keterangan: S = skor yang dicari
∑B = jumlah jawaban yang benar
∑S = jumlah jawaban yang salah
n = jumlah alternative jawaban yang disediakan
1 = bilangan tetap
c) Untuk soal bentuk menjodohkan (matching)
Rumus: S = ∑B
Keterangan: S = skor yang dicari
∑B = jumlah jawaban yang benar
d) Untuk soal bentuk jawaban singkat (short answer) dan melengkapi (completion)
18
Rumus: S = ∑B
Keterangan: S = skor yang dicari
∑B = jumlah jawaban yang benar
2. Skor Total (Total Score)
Skor total adalah jumlah skor yang diperoleh dari seluruh bentuk soal setelah diolah dengan rumus tebakan (guessing formula) (Zainal Arifin, 2009: 231). Ketika misalnya mengambil contoh di atas maka skor total siswa adalah 20 + 6 + 5 + 7 = 38. Skor ini merupakan skor mentah (raw score).Langkah selanjutnya adalah mengolah skor mentah tersebut menjadi nilai-nilai jadi.
3. Konversi Skor
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang telah diperoleh. Yang secara tradisional seringkali guru menggunakan rumus sebagai berikut:
Nilai = ∑X 10 (skala 0 – 10)
∑S
Keterangan : ∑X = jumlah skor mentah
∑S = jumlah soal
4. Cara Memberi Skor untuk Skala Sikap
Data penilaian sikap bersumber dari catatan harian peserta didik berdasarkan pengamatan atau observasi para evaluator.Data hasil pengamatan tersebut kemudian dilengkapi dengan hasil penilaian berdasarkan pertanyaan langsung dan laporan pribasi (Tim Penyusun, 2007: 35).
5. Cara Memberi Skor untuk Domain Psikomotor
Dalam domain psikomotor yang diukur adalah penampilan dan kinerja.untuk mengukurnya dapat dilakukan dengan cara menggunakan tes tindakan melalui simulasi, unjuk kerja atau tes identifikasi. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sampai pada hasil tidak baik (1).
19
6. Pengolahan Data Hasil Tes: PAPdan PAN
Setelah diperoleh skor setiap peserta didik, guru hendaknya tidak tergesa-gesa menentukan prestasi belajar (nilai) peserta didik yang didasarkan pada angka yang diperoleh setelah membagi skor dengan jumlah soal, karena cara tersebut dianggap kurang proporsional.Misalnya, seorang peserta didik memperoleh skor 60, sementara skala yang digunakan untuk mengisi buku rapor adalah skala 0 – 10 atau skala 0 – 5, maka skor tersebut harus dikonversikan terlebih dahulu menjadi skor standar sebelum ditetapkan menjadi nilai akhir.
a. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Pendekatan ini dititikberatkan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Dapat pula dikatakan penilaian ini dititikberatkan pada kemampuan-kemampuan apa yang telah dicapai oleh eserta didik sesudah menyelesaikan satu bagian kecil dari suatu keseluruhan program.
Dengan demikian PAP meneliti apa yang dapat dikerjakan oleh peserta didik, bukan membandingkan seorang peserta didik dengan teman sekelasnya, melainkan dengan suatu kriteria atau patokan yang spesifik. Kriteria yang dimaksud adalah suatu pengalaman tingkat belajar yang diharapkan tercapai sesudah selesai kegiatan belajar, atau sejumlah kompetensi dasar yang telah ditetakan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar berlangsung.Misalnya kriteris itu menggunakan 75% atau 80%.Bagi peserta didik yang kemampuannya berada di bawah kriteria yang telah ditetapkan dinyatakan belum berhasil dan harus mendapatkan remedial.
b. Penilaian Acuan Norma (PAN)
Dalam penilaian acuan norma, makna angka (skor) seorang peserta didik ditemukan dengan cara membandingkan hasil belajarnya dengan hasil belajar peserta didik lainnya dalam satu kelompok atau kelas. Peserta didik dikelompokkan berdasarkan jenjang hasil belajar sehingga dapat diketahui kedudukan relative seorang peserta didik jika dibandingkan dengan teman sekelasnya.
Tujuan penilaian acuan norma ini adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Secara ideal, pendistribusian tingkat kemampuan dalam satu kelompok menggambarkan suatu kurva normal.
20
Pada umumnya, penilaian acuan norma dipergunakan untuk seleksi. Soal tes dalam pendekatan ini dikembangkan dari bagian bahan yang diangggap oleh guru urgen sebagai sampel dari bahan yang telah disampaikan. Guru berwenang untuk menentukan bagian mana yang lebih urgen. Dengan demikian guru harus membatasi jumlah soal yang diperlukan, karea tidak semua materi yang disampaikan kepada peserta didik dapat dimunculkan soal-soalnya secara lengkap.
Soal-soal harus dibuat dengan tingkat kesukaran yang bervariasi mulai dari yang mudah hingga yang sukar sehingga memberikan kemungkinan jawaban peserta didik bervariasi, soal dapat menyebar, dan dapat membandingkan peserta didik antara yang satu dengan yang lainnya.
E. Contoh Pengolahan Hasil Belajar SD Kurikulum 2013
a. Pengolahan Nilai Aspek Sikap
Penilaian aspek sikap diperoleh dengan menggunakan instrumen: (1) observasi; (2) Penilaian diri sendiri; (3) Penilaian antarteman; dan (4) Jurnal catatan guru. Tetapi dalam pengolahan nilai yang akan diisikan pada buku rapor, penilaian diri sendiri dan penilaian antarteman hanya digunakan sebagai bahan konfirmasi. Sedangkan jurnal catatan guru digunakan untuk mengisi saran-saran pada buku rapor.
* Observasi
Instrumen penilaian sikap sosial (KI.2)
Tema : Diriku
Indikator : ~ Menjalankan peraturan pada permainan disekolah
~ Mengidentifikasi nama teman
~ Menyebutkan identitas teman
21
Contoh Deskripsi yang disiapkan untuk mengisi buku rapor.
Ani:
Menunjukkan sikap percaya diri dan bekerja sama yang sangat menonjol, namun masih perlu usaha-usaha dan bimbingan dalam hal ketelitian.
Ali:
Menunjukkan sikap sopan santun yang sangat menonjol, namun masih perlu usaha-usaha dan bimbingan dalam hal menumbuhkan disiplin dan ketelitian.
* Jurnal catatan guru
Contoh penilaian Jurnal catatan guru
22
b. Pengolahan Nilai Aspek Pengetahuan
Meskipun nilai aspek pengetahuan diolah secara kuantitatif, tetapi yang diisikan di buku rapor adalah deskripsi kualitatif. Deskripsi tersebut berupa kalimat positif tentang apa yang menonjol terkait kemampuan siswa dalam tiap muatan pelajaran, dan usaha-usaha apa yang perlu untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan. Oleh sebab itu, sebelum melaksan ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester diperlukan langkah-langkah sebagai berikut.
* Menyusun kisi-kisi:
· Untuk ulangan harian kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari aspek pengetahuan (KI-3) yang terangkum dalam satu sub tema yang sesuai.
· Untuk UTS kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari aspek pengetahuan (KI-3) yang terangkum dalam dua tema yang sesuai.
· Untuk UAS kisi-kisi bersumber dari muatan mata pelajaran pada KD dari aspek pengetahuan (KI-3) yang terangkum dalam seluruh tema dalam satu semester.
* Menyusun soal sesuai kisi-kisi
* Melaksanakan ulangan
* Menganalisis hasil ulangan yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan tiap siswa dari muatan-muatan mata pelajaran dalam satu perangkat soal
Contoh analisis soal pada tema 1 / sub tema 1
Kelas / semester : IV / I
Tema / sub tema : Indahnya kebersamaan / Keberagaman budaya bangsaku
23
Hasil analisis ini digunakan untuk program remidial dan pengayaan
Demikian juga untuk UTS dan UAS, dengan menggunakan langkah yang sama tetapi dengan cakupan KD yang lebih luas.
Untuk mengisi deskripsi pada rapor dengan mempertimbangkan kecenderungan anak (kekuatan dan kelemahan tentang muatan mata pelajaran yang terangkum dalam ulangan haruan, UTS dan UAS)
Penghitungan nilai capaian kompetensi siswa secara kuantitatif dilakukan untuk mengetahui kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebagi pertimbangan untuk melakukan program remedial.
Penghitungan nilai capaian kompetensi siswa secara kuantitatif, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
· Menghitung nilai harian (NH) . Nilai harian diperoleh dari hasil ulangan harian. Nilai harian dapat diperoleh dari tes tulis, tes lisan, dan penugasan yang dilaksanakan pada setiap akhir satu sub-tema pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pendidik.
· Menghitung nilai Ulangan Tengah Semester (NUTS). Nilai UTAS diperoleh dari hasil tes tulis yang dilaksanakan pada tengah semester. Materi Ulangan Tengah Semester mencakup seluruh kompetensi yang telah dibelajarkan sampai dengan saat pelaksanaan UTS.
24
· Menghitung nilai Ulangan Akhir Semester (NUAS) . Nilai UAS diperoleh dari hasil tes tulis yang dilaksanakan di akhir semester. Materi UAS mencakup seluruh kompetensi pada semester tersebut.
· Penghitungan Nilai Pengetahuan diperoleh dari rata-rata Nilai Harian (NH), Ulangan Tengah Semester (NUTS), Ulangan Akhir Semester (NUAS).
· Penilaian rapor untuk pengetahuanmenggunakan penilaian kuantitatif 1 – 4.
dengan kelipatan 0,33 , dengan 2 (dua) desimal di belakang koma seperti berikut:
b. Ketuntasan minimal untuk seluruh kompetensi dasar pada kompetensi pengetahuan adalah 2.67 (B-)
c. Penghitungan nilai pengetahuan dilakukan dengan cara :
Menggunakan skala nilai 0 sd 100, selanjutnya dikonversi pada skala 1-4 

c. Pengolahan nilai Aspek Keterampilan
· Penilaian Keterampilan diperoleh melalui penilaian kinerja yang terdiri atas:
· Nilai Kinerja atau praktik
· Nilai Proyek dan atau produk
· Nilai Portofolio
· Penilaian Praktik
Contoh penilaian praktik
Kelas/Semester: I/I
Deskripsi tersebut di atas merupakan bahan pertimbangan yang akan diisikan ke buku rapor untuk aspek keterampilan.
Penilaian Projek
Contoh format penilaian Projek.
Kelas/Semester : IV / I
Tema : Selalu berhemat energi
Subtema : Macam-macam sumber energi
Pembelajaran : ke dua
Rubrik Penilaian Projek
Comments
Post a Comment